Minggu, 07 Juli 2013

PESANTREN RAKYAT, NU DAN POLITIK KEBANGSAAN

PESANTREN RAKYAT, NU DAN POLITIK KEBANGSAAN Oleh: Asep Suriaman )* Model Pendidikan Islam dan Pemberdayaan dengan pendekatan Multi Level Strategi ini pertama kali di gagas oleh Ust. Abdullah Sam, S.Psi dari Sumberpucung Malang ( beliau sekaligus pengasuh Pesantren Rakyat Al-Amin ), Pesantren Rakyat cocok sekali didirikan dimana dan kapan saja, selama ada rakyat maka layak di situ berdiri Pesantren Rakyat. "Islam itu agama yang besar. Indonesia negara yang Besar. NU bertugas menjaga, melestarikan dan memurnikan kebesaran Islam dan kebesaran Indonesia." Demikian ungkapan yang disampaikan Prof. Dr. KH. Sa'id Aqil Siradj. Bila kita mencerna secara mendalam, ungkapan sang Profesor yang kini menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tersebut kita akan menangkap pesan bahwa tugas NU, baik secara jam'iyyah (organisasi atau kelembagaan) maupun jamaah (personal) sangat besar dan berat. Tugas tersebut adalah mengawal dan mengembangkan kebesaran Islam di negara besar Indonesia. Tugas berat itu salah satunya bias melalui pendidikan di Pesantren Rakyat. NU bertugas membumikan Islam yang secara formal dipeluk oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Tugas NU memproyeksikan dan mentransformasikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Membumikan Islam dalam konteks dakwah perjuangan NU tanpa harus merelokasi atau bahkan menggerus nilai-nilai kultural yang tumbuh dan berkembang di dalam kehidupan masyarakat. Karena nilai-nilai kultural, kearifan (local wisdom), dan keunikan lokal (local genius) yang tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat banyak yang sesuai dengan nilai-nilai Islam, seperti tolong-menolong, gotong-royong, kebersamaan, bersedekah dengan berkumpul mengundang sanak saudara dan tetangga dan sebagainya, sebagai mana yang sudah di terapkan di Pesantren Rakyat. NU berkewajiban memasukkan nilai-nilai moral-spiritual Islam kedalam nilai kulutral masyarakat. Seperti perjuangan para Waliyullah dalam mengembangkan dan mensyiarkan Islam di tanah Jawa. Perjuangan dalam mengembangkan dakwah Islamiyah, agar ia berjalan efektif, maksimal dan optimal tentunya membutuhkan strategi. Srategi ini ditempuh dan dikembangkan melalui berbagai lini, termasuk politik. Meskipun Khittah NU melarang ikut politik praktis. Politik dalam konteks perjuangan NU adalah politik dakwah dan politik kebangsaan, bukan politik praktis yang saat ini sedang ramai dan di ikuti oleh segelintir oknum yang mengatasnamakan dirinya warga NU tulen yang hanya untuk mencari kemenangan dan kepuasan syahwat kekuasaan dan jabatan. Namun demikian, tidak jarang NU secara jam'iyah (terlebih dalam skala kecil seperti PCNU), apalagi jamaahnya terjebak dalam tarik ulur kepentingan politik, terjerembab dalam arus kepentingan demi kekuasaan, jabatan dan prestise. Tidak jarang kader NU mendompleng NU demi untuk mendulang dukungan dan mengais simpati agar terpilih untuk menduduki jabatan tertentu, ataupun mendorong jama’ahnya untuk mendukung salah satu pasangan calon, misalnya didalam urusan pesta demokrasi seperti Pilkada, Pilgub dll. Mereka menggunakan nama NU dan mengatasnamakan NU untuk kepentingan pribadi dan kepentingan kelompok. Kader atau jamaah NU yang demikian sesungguhnya ia telah ber-NU untuk politik. Artinya, ia menggunakan institusi dan mengeksploitasi jamaah NU untuk memenuhi kepentingan politik pribadinya atau kelompok tertentu. Tindakan di atas tentunya berlawanan dan mereduksi khittah politik NU yang menekankan pada politik dakwah dan kebangsaan. Bukan politik kelompok atau golongan tertentu, terlebih untuk individu. Politik kebangsaan lebih mengutamakan kepentingan bersama, menjaga kebersamaan dan kebesaran bangsa Indonesia dan Agama Islam. Politik kebangsaan yang menumbuhkembangkan kerukunan, perdamaian, keadilan, ketenteraman dan kesejahteraan dan pemberdayaan dalam bingkai multikulturalisme dan multi keyakinan dengan prinsip kekeluargaan dan persaudaraan. Politik kebangsaan yang dikembangkan NU tidak bisa dilepaskan dari dunia pesantren. Bahkan ketua umum PBNU, S'aid Aqil Siradj sempat mempopulerkan jargon back to pesantren (kembali ke pesantren). Pesantren merupakan basic pertumbuhan dan perkembangan kultur NU, dan diakui atau tidak, pada dasarnya kebesaran NU lebih pada kekuatan kulturnya daripada strukturnya. Back to pesantren berarti menumbuhkembangkan kembali pola fikir, pandangan dan cara hidup dunia pesantren yang kental dengan nilai-nilai spiritualitas, moralitas, kebersamaan, keikhlasan, kesederhanaan, kemandirian penuh hikmah dan kebijaksanaan, dan dari pesantrenlah pendidikan karakter itu terbentuk, jauh hari sebelum mendiknas mencanangkan kurikulum tentang pendidikan karakter. Artinya, pola dakwah dan perjuangan NU harus memegangi spirit dakwah dan jangan terjebak dan terbawa arus globalisasi yang lekat dan sarat dengan nilai-nilai politik praktis para elitis, hedonis yang kental dengan budaya konsumerisme. Karena nampaknya ada pergeseran pola fikir dan gaya hidup sebagian jamaah NU kearah pola elitis, materealis dan jauh dari nilai-nilai kesederhanaan dan keikhlasan. Pesantren-pesantren dibawah naungan NU, melalui Kiyai, ulama dan santri telah sukses mensinergikan budaya dan agama. Ini terbukti dengan tersebarnya dakwah dan nilai perjuangan NU ke seluruh pelosok, bahkan tersebar ke penjuru nusantara, bahkan mendunia. Pesantrenlah yang menjadi pilar penopang dakwah NU. Moralitas dan misi pesantren bersandar pada citra Ilahi yang menekankan pengabdian dan keikhlasan yang berorientasi pada dimensi esoterik yang bersifat metafisik. Inilah yang seharusnya terus dipegangi NU, baik jam'iyah maupun jamaah. Dakwah dan politik kebangsaan NU tidak terbatas oleh kepentingan, tempat dan waktu. Dakwah untuk memperjuangkan dan membangun kecerdasan emosional, intelektual, spiritual dan sosial umat dan bangsa demi terciptanya masyarakat yang adil, damai, sejahtera dalam bingkai multikulturalisme Bangsa Indonesia. Jangan sampai NU dan warga Pesantren di manfaatkan oleh sekelompok orang untuk meraih ambisi tertentu.

menyikapi perbedaan Penentuan awal Ramadhan

Menyikapi perbedaan awal Ramadhan Perbedaan dalam penetapan awal puasa 1 Ramadan 1434 Hijriah hendaknya disikapi secara arif oleh para pimpinan ormas dan umat Islam. Bukankan perbedaan itu adalah rahmat jadi jangan sampai perbedaan ini kita jadikan perbedaan sebagai permusuhan. Bukankah islam ini adalah agama yang cinta damai. Para ulama’ kita berselisih pendapat di dalam menentukan awal bulan Ramadhan apakah dengan cara melihat bulan langsung (rukyat) yang kebanyakan medode ini di lakukan oleh saudara kita ormas NU atau dengan cara hisab yang dilakukan ormas Muhammadiyah. I. Pendapat Pertama mengatakan bahwa cara menentukan awal bulan Ramadhan adalah dengan cara melihat bulan secara langsung (rukyat) dan tidak boleh menggunakan hisab. Ini adalah pendapat mayoritas ulama salaf dan khalaf, termasuk di dalamnya Imam Madzhab yang empat (Abu Hanifah, Malik, Syafi’I, dan Ahmad). Dalil mereka adalah sebagai berikut: 1. Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam: «لَا تَصُومُوا حَتَّى تَرَوُا الْهِلَالَ، وَلَا تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوْهُ، فَإِنْ أُغْمِيَ عَلَيْكُمْ فَاقْدِرُوا لَهُ» و في رواية: فَإِنْ أُغْمِيَ عَلَيْكُمْ فَاقْدِرُوا لَهُ ثَلَاثِينَ» “Jangan kalian berpuasa sampai kalian melihat hilal, dan jangan berbuka sampai melihatnya lagi, jika bulan tersebut tertutup awan, maka sempurnakan bulan tersebut sampai tiga-puluh.” (HR. Bukhari no. 1906 dan Muslim no. 1080) 2. Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam: «صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ، فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلاَثِينَ» “Berpuasalah karena kalian melihat bulan, dan berbukalah ketika kalian melihat bulan. Jika bulan tersebut tertutup awan, maka sempurnakanlah bulan Sya’ban menjadi tiga-puluh hari.” (HR. Bukhari no. 1909 dan Muslim no. 1081) 3. Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam: «إِذَا رَأَيْتُمُ الْهِلَالَ فَصُومُوا، وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا» “Jika kalian melihat hilal (Ramadhan), maka berpuasalah, dan jika kalian melihat hilal ( Syawal), maka berbukalah.” (HR Muslim no. 1081) Hadits-hadits di atas menunjukkan bahwa cara menentukan awal bulan Ramadhan adalah dengan melihat bulan secara langsung. Jika bulan tersebut terhalang oleh awan, hendaknya disempurnakan bilangan bulan hingga tiga puluh hari. Inilah maksud lafadh “faqduru lahu” dalam hadits di atas setelah menjama’ beberapa riwayat yang ada. II. Pendapat kedua mengatakan bahwa cara menentukan awal bulan Ramadhan dengan menggunakan hisab. Ini adalah pendapat Mutharrif bin Abdullah, Ibnu Suraij, dan Ibnu Qutaibah. Mereka berdalil dengan hadits riwayat muslim di atas ( lihat hadits no 1), hanya saja kelompok ini menafsirkan lafadh ” faqduru lahu ” dengan ilmu hisab. Yaitu jika bulan tersebut tertutup dengan mendung, maka pergunakanlah ilmu hisab. Dari dua pendapat di atas, maka pendapat yang benar adalah pendapat mayoritas ulama yang mengatakan bahwa untuk menentukan awal bulan Ramadhan dan Syawal adalah dengan cara melihat bulan secara langsung (rukyat). Boleh memakai alat bantu seperti teropong dan lain-lainnya. Demikian pula diperbolehkan menggunakan hitungan hisab, tetapi hanya sebagai pembantu dan penopang dari rukyat. Selain dalil-dalil yang telah diungkap di atas, ada dalil lain yang menguatkan pendapat mayoritas ulama,yaitu sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam: «إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ، لاَ نَكْتُبُ وَلاَ نَحْسُبُ، الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا» يَعْنِي مَرَّةً تِسْعَةً وَعِشْرِينَ، وَمَرَّةً ثَلاَثِينَ “Sesungguhnya kita (umat Islam) adalah umat yang ummi, tidak menulis dan menghitung, bulan itu jumlahnya 29 hari atau 30 hari.”(HR Bukhari no. 1913 dan Muslim no. 1080) Artinya hadits di atas adalah untuk menentuan awal bulan, umat Islam tidak diwajibkan untuk mempelajari ilmu hisab. Karena Allah telah memberikan cara yang lebih mudah dan bisa dilakukan oleh banyak orang, yaitu rukyat. Ini bukan berarti umat Islam dilarang mempelajari ilmu tersebut, karena Allah swt telah memerintahkan kepada umatnya agar selalu menuntut ilmu pengetahuan selama hal itu membawa maslahat dalam kehidupan manusia ini. Akan tetapi maknanya bahwa ajaran Islam ini mudah dan bisa dicerna oleh semua kalangan, dan bisa dipraktekan oleh semua orang. Selain itu di dalam ilmu hisab (ilmu falak) telah terjadi perbedaan pendapat yang sangat banyak. Ada yang menetapkan bahwa awal bulan dimulai pada saat terbenam matahari setelah terjadi ijtima’. Sebagian yang lain menetapkan bahwa awal bulan dimulai pada saat terbenam matahari setelah terjadi ijtima’ ditambahkan bahwa pada saat terbenam matahari tersebut, Hilal (bulan) sudah wujud di atas ufuk. Ini sering disebut dengan model ” wujudul hilal.” Bahkan ada kelompok yang mensyarakatkan wujud bulan di atas ufuk tersebut dengan imkanur rukyat (berdasarkan perkiraan mungkin tidaknya hilal dirukyat). Kelompok yang menggunakan model “imkanu al rukat” inipun berbeda pendapat di dalam menentukan batasannya. Ada yang memegang dengan batasan 2 derajat, ada yang memakai 5 derajat. Dan banyak lagi perbedaan-perbedaan yang tidak mungkin diungkap di sini. Inilah mengapa umat Islam di Indonesia belum bisa bersatu di dalam menentukan awal bulan Ramadhan dan Syawal, karena masing-masing dari aliran ilmu hisab (ilmu falak) memegang prinsipnya dan merasa paling benar, sehingga tidak mau mundur sedikitpun demi persatuan umat. Wallahu Musta’an. Untuk mengurangi perpecahan yang terjadi di kalangan umat Islam dalam menyikapi perbedaan cara menentukan awal bulan tersebut, para ulama menfatwakan bahwa sebaiknya umat Islam mengikuti awal bulan Ramadhan dan Syawal yang telah ditentukan oleh pemerintah dalam negara masing-masing. Untuk negara Indonesia umpamanya, hendaknya seluruh rakyat mengikuti apa yang telah diputuskan pemerintah dalam hal ini Departemen Agama. Itu semua demi maslahat persatuan.

Jumat, 05 Juli 2013

Aku ada

aku di lahirkan bukan untuk menyakitimu tapi ku digariskan tak membahagiakan hidupmu mungkin ku bajingan tapi bukan penjahat perang yang slalu menikam tanpa belas kasihan
Berusaha tuk menjadi orang benar!! Dimana saya berpijak di situlah saya akan mengadakan perubahan. dan di tempat itu pula saya bekerja untuk dan karena ALLAH

Kamis, 04 Juli 2013

Hati yG bersih

Hati adalah raja.Ialah pemberi perintah apa yang dilaksanakan oleh setiap tubuh manusia,ia yang menerima hidayah-NYA,dan tidaklah semua amalan menjadi lurus dan benar kecuali bersumber dari hati yang bersih dan sehat.Hati manusia kadang diselubungi oleh kotoran yang disebabkan maksiat yang dilakukan,setiap maksiat membawa kepada kepada dosa dan setiap dosa akan menambah setumpuk titik hitam didalam hati nurani dan akan menjadikan gelap hingga sukar dilihat jalan kebaikan dan kebenaran.Apabila tumpukan hitam itu sudah memenuhi sebagian besar ruangan dalam hati,maka yang benar dilihat salah dan yang salah dipandang benar.Rasulullah bersabda:"ingatlah,dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging.Kalau segumpal daging itu baik,maka akan baiklah seluruh tubuhnya.Tetapi bila rusak,niscaya akan rusak pula seluruh tubuhnya.Segumpal daging itu bernama :qolbu!"(HR.Bukhori dan Muslim) Dan hati ada 3 macam:hati yang hidup,hati yang mati,hati yang sakit. * Hati yang hidup dan sehat ialah hatinya orang-orang yang beriman,. * Hati yang mati adalah hatinya orang-orang kafir. * Adapun hati yang sakit ialah hatinya orang muslim yang banyak maksiat, 1. Hati yang sehat ialah jati yang bersih dari berbagai syahwat yang menyalahi perintah ALLAH.Bebas dari syubhat yang bertentangan dengan arahan ALLah.Mencintai ALLAH DAN RASUL-NYA,mentaati,tunduk dan patuh,bertawakal dan patuh.Bertawakal kepada ALLAH dan mengutamakan mencari keridhaan ALLAH. 2. Hati yang mati,tiada kehidupan didalamnya.Tidak mengenal ALLAH,tidak beribadah kepadaNYA ,tidak peduli kepada RidhoNYA/MURKA-NYA demi menuruti hawa nafsu,.Mencintai bukan karena ALLAH tapi karena nafsunya.Hawa nafsulah pemimpinya,syahwat komandannya,kebodohan sopirnya,dan kelalaian adalah kendaraannya. 3. Hati yang sakit,yaitu sebenarnya hati yang memiliki kehidupan,namun didalamnya tersimpan benih benih penyakit,kadang ia hidup,kadang pula berpenyakit,tergantung ketahanan hatinya. Keadaan hati yang pertama disebut putih dan memancarkan cahaya keimanan,jika dihadapkandengan fitnah maka ia menolaknya,itulah hati yang didalamnya terdapat pelita cahaya,yaitu hati orang-orang mukmin. Keadaan hati yang kedua disebut juga hati yang tertutup dalam kemasan hitam yaitu hati orang-orang kafir atau juga disebut hati yang terbalik yaitu hati orang-orang munafiq. Keadaan hati yang ketiga bisa menimpa oraang-orang muslim(termasuk diri ini...)yang kurang waspada dalam menjaga kesehatan dan kebersihan hatinya sehingga mudah terkena/dihinggapi penyakit.. Ya ROBB,,HANYA ENGKAULAH YANG MEMEGANG HATIKU,,ENGKAU juga yangg mengetahui isi hati ku bukan aku meminta dari mahluk-MU,karena mereka juga seperti ku,,,hanya padaMU aku mengadu,tetapkan aku pada jalanMU,,, SEsungguhnya aku sadar aku adalah diantara manusia yang dalam kerugian.Lindungilah aku dan tetapkanlah imanku,YA ALLAH AMPUNKANLAH DOSAKU,,amin ya robbal'alamin,,,,

berkuda

087859477988

087859477988

Rabu, 03 Juli 2013

UNTUKMU

Jiwa yang pucat ketakutan atau jiwa yang berjalan dengan cahaya-MU Adakah bekas di hati atau sekedar berjalan di tempat tanpa sadar maut semakin dekat Sebelum semua terjadi mari sambut ramadhan untuk pembelajaran diri Untuk mengerjakan apa yang turun kedalam kitab-NYA Tanpa banyak pertanyaan apalagi tanpa berkeluh kesah Untuk sucikan diri karena Tuhan telah berkenan memberikan bulan ramadhan yang penuh berkah ilahi