Setiap manusia adalah pelaku perubahan, dan sebaik-baik pelaku perubahan adalah pelaku perubahan yang dapat bermanfaat bagi orang lain dan lingkungan
Selasa, 26 Maret 2013
RAHASIA BAHAGIA
Bahagia itu maknawi Juga bersifat rohaniah
Rasa senang bukan bhgia sekalipun ia berharta
krna semua itu bersifat lahiriah
ia buknlah hakikat bhgia..
Tenang itulah tanda bahagia....
Ia kn tenang kan keluh kesah
bila tiada kebahgiaan....
hidup penuh kepuraan
Mazmumah tunjang tiada bahagia
krna trus mngekalkannya
hasad dengki,gila dunia,sombong bongkak merosakkan segala
Carilah tenang dapatkan bahagia
Cintakan allah setiap masa
Bila zikrullah di hayati
Barulah bahgia diperolehi
RUMAH TANGGA TAPAK PERJUANGAN
Ya Allah,
Engkau jadikanlah rumahtangga syurga sebelum syurga,
Anak-anak cahaya mata,
Isteri-isteri mengikut kata.
Tuhan,
Jadikanlah rumahku masjid mengingatiMu,
Sumber ilham dan ilmu,
Tempat hiburan dan ketenanganku dan keluargaku.
Tetamu yang datang membawa rahmat,
Perginya penghapusan dosa,
Wahai Tuhan, jadikanlah rumahku kerehatanku,
Tempat aku mendapat kekuatan jiwa,
Tempat aku mengecas bateri jiwaku,
Pabila ku keluar rumah, kereta perjuanganku bertambah laju.
Ya Allah,
Engkau jadikanlah keluargaku tapak perjuanganku,
Role model untuk ditiru,
Berilah aku kekuatan memimpin diri dan keluargaku.
Memimpin masyarakat diharapkan juga,
Berilah aku kekuatan iman dan ilmu,
Kesihatan dan buah fikiran,
Kelapangan masa untuk berjuang,
Boleh menilai diri baik buruknya.
Ya Allah, jadikanlah Engkau cinta agungku,
Agar seluruh apa yang ada aku korbankan untukMu,
Bahkan jiwa ragaku,
Dan berilah aku kawan-kawan yang setia,
Boleh berjuang bersamaku susah dan senang.
Akhir sekali ampunkanlah dosa-dosaku,
Dan dosa-dosa keluarga serta pengikut-pengikutku…
Amin.
Selasa, 19 Maret 2013
“Tuhan mengasihi semua jiwa ciptaan-Nya, dan dari semua jiwa yang dikasihi Tuhan, Anda adalah jiwa yang khusus. Jika tidak, mengapakah Anda merasa bahwa yang kita bicarakan ini hanya untuk Anda? Tersenyumlah penuh kasih kepada Tuhanmu. Kapankah engkau terakhir kali tersenyum dan menyapa Tuhanmu dengan penuh kasih? Kapankah engkau terakhir menyapa Tuhan dengan suaramu yang lembut dan penuh kemanjaan? Jika engkau merindukan kehidupan yang damai dan indah, ketahuilah bahwa Tuhanmu merindukan sapa dan senyum damai dan indah dari mu, jiwa kesayangan-Nya.”
NU dan PEMBANGUNAN KARAKTER BANGSA
Kondisi moral dan mental masyarakat Indonesia saat ini cukup memprihatinkan. Dekadensi moral hampir terjadi di semua lapisan masyarakat, dari yang pejabat sampai rakyat biasa, dari kalangan yang tidak terdidik sampai yang terdidik, kalangan muda sampai yang tua. Hampir setiap hari kita disuguhi berita tentang kejahatan dan perilaku amoral. Padahal moral dan mental masyarakat akan menentukan jati diri dan karakter bangsa.
Untuk memperbaiki kondisi di atas, bukanlah hal yang mudah. Perjuangan untuk memperbaiki kondisi moral dan pembangunan karakter (character building) generasi bangsa membutuhkan pengorbanan pikiran, tenaga dari berbagai elemen bangsa. NU sebagai organisasi yang mempunyai kekuatan sipil yang besar dapat secara lebih aktif berperan dalam menyelesaikan masalah ini.
Kalau berbicara masalah peran NU dalam kancah politik nasional dan pendidikan maka kita akan menemukan fakta yang tak terbantahkan. Dalam masalah kajian keagamaan, NU juga sudah tidak diragukan lagi, banyak sekali intelektual muda NU yang sudah berkiprah dalam pembanguan pemikiran keagamaan di negeri ini. Banyak tokoh dan kader NU yang telah mewarnai perkembangan kajian dan pemikiran keagamaan di Indonesia.
NU sebagai infrastruktur sosial bangsa dan sebagai ormas sosial keagamaan terbesar di Indonesia, bahkan di dunia telah berperan aktif dalam membangun SDM bangsa. Hal ini sebagai implementasi komitmen NU dalam membangun kecerdasan intelektual dan emosional umat yang berlandaskan nilai-nilai spiritual-moral (moral-spiritual values) yang menjadi ciri khas NU. Pembangunan moral spiritual umat yang dikembangkan NU ini merupakan potensi dan kekuatan yang tangguh untuk dikembangkan dalam rangka pembangunan karakter (character building) generasi bangsa yang mulai pudar tergerus dan tergeser oleh kebudayaan-kebudayan global (global culture) atau kebudayaan asing.
Disadari atau tidak, arus globalisasi yang kian deras berdampak cukup signifikan terhadap berbagai aspek kehidupan. Kebudayaan lokal dan nilai-nilai moral, jati diri dan karakter bangsa yang merupakan eksistensi sebuah masyarakat mendapat tantangan dan serangan yang cukup dahsyat. Di era globalisasi ini, budaya yang ada didominasi oleh budaya Barat, khususnya budaya Amerika yang sarat dengan konsumerisme, hedonisme dan materialisme. Globalisasi yang melanda dunia ditandai dengan hegemonisasi food (makanan), fun (hiburan), fashion (mode), dan (pemikiran). Budaya-budaya ini terkadang dipaksakan masuk ke dalam budaya lain, sehingga tidak jarang terjadi “benturan-benturan” nilai kebudayaan. Kondisi ini juga mengikis rasa nasionalisme dan rasa memiliki terhadap kebudayaan bangsa sendiri. Dengan adanya tantangan ini, NU dengan kekuatan organisasi dan jaringan lembaga pendidikan pondok pesantren, lembaga pendidikan ma'aarif yang tersebar di seluruh pelosok nusantara dapat berperan lebih aktif untuk membangun dan memperkuat karakter anak bangsa.
Pondok Pesantren sebagai institusi pendidikan agama bagi masyarakat, telah terbukti mampu mempertahankan dan meningkatkan perannya dalam menyelesaikan berbagi permasalahan yang muncul di masayarakat, terutama masalah dekadensi moral (moral decadence) yang semakin hari semakin parah. Dengan prestasi ini, sudah seharusnya pesantren dapat dimanfaatkan sebagai penyeimbang (balance) dan pemberi warna kehidupan masyarakat dengan nilai-nilai religious (religious values), keindahan moral dan kedalaman spiritual. Dengan penanaman nilai moral spiritual agama, maka diharapkan akan dapat membantu pembangunan moral dan karakter generasi bangsa Indonesia.
Pembangunan karakter bangsa sangat erat kaitannya dengan pendidikan. Pada dasarnya sistem pendidikan nasional yang dikembangkan di Indonesia bermaksud dan bertujuan bukan hanya untuk mencerdasrkan intelektualitas generasi bangsa, akan tetapi juga bermaksud mencetak generasi yang mempunyai ketinggian moral dan ketangguhan jati diri karakter. Oleh karena itu, pemantapan dan penguatan jaringan pesantren NU yang tersebar diseluruh nusantara perlu diperhatikan dan mendapat perhatian serius.
Sebagaimana maklum, secara umum, proses pendidikan meliputi tiga aspek pokok, yaitu afektif, kognitif dan psikomotorik. Aspek afektif yakni yang berkaitan dengan sikap, moral, etika, akhlak, manajemen emosi. Sementara aspek kognitif yakni yang berkaitan dengan aspek pemikiran, transfer ilmu, logika, analisis. Sedangkan aspek psikomotorik adalah yang berkaitan dengan praktek atau aplikasi apa yang sudah diperolehnya melalui jalur kognitif.
Lembaga lembaga pendidikan yang berada di bawah naungan NU selama ini dinilai telah mampu menyeimbangkan pencapaian aspek kognitif, afektif fan psikomotorik. Agar kekuatan tersebut bisa membawa manfaat yang lebih besar dan luas dalam rangka membangun manusia Indonesia seutuhnya, NU diharapkan bisa mengoptimalkandan memaksimalkan pesantren dalam membentuk dan menyeimbangkan antara kekuatan akal, sikap dan keterampilan. Harapan ini juga pernah disampaikan oleh Menteri Pendidikan Nasional M. Nuh pada saat pembukaan Mukatamar NU di Makasar tahun lalu.
Bukan hanya itu, generasi bangsa perlu dibekali dengan social skills (kemampuan kemasyarakatan) yang cukup. Hal inipenting agar mereka dapat memperkuat jiwa sosial dalam menyelesaikan berbagai permasalah yang muncul dalam kehidupan masyarakat.
Pendidikan Pondok Pesantren yang menjadi cirri khas NU merupakan institusi pendidikan agama, di dalamnya sarat dan akrab dengan iklim kehidupan yang penuh kesederhanaan, kemandirian, keteguhan, kesabaran dan keuletan serta kental dengan nilai-nilai religius dan spiritual. Nilai-nilai inilah yang saat ini mulai hilang dari kehidupan bangsa kita karena tergeser oleh nilai-nilai kebudayaan global (global culture).
NU dengan kekuatan organisasi dan jaringan pondok pesantrennya lewat RMI (rabithah Ma’ahid Islamiyah) harus mampu meningkatkan perannya dalam membentengi masyarakat dari kerusakan moral dengan mentransformasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan masyarakat. Upaya ini diharapkan dapat mengembalikan masyarakat dari keterperosokan moral dan memperteguh jati diri dan membangun karakter generasi bangsa yang tangguh. Dengan demikian mereka dapat mempertahankan nilai-nilai moral dan kebudayaan dan memperteguh rasa nasionalisme bangsa Indonesia di tengah arus gelobalisasi yang saat ini sedang melanda.
PESANTREN RAKYAT, NU DAN POLITIK KEBANGSAAN Oleh: Asep Suriaman (Kader NU, Khodim Pesantren Rakyat El-Fath)
Model Pendidikan Islam dan Pemberdayaan dengan pendekatan Multi Level Strategi ini pertama kali di gagas oleh Ust. Abdullah Sam, S.Psi dari Sumberpucung Malang ( beliau sekaligus pengasuh Pesantren Rakyat Al-Amin ), Pesantren Rakyat cocok sekali didirikan dimana dan kapan saja, selama ada rakyat maka layak di situ berdiri Pesantren Rakyat.
"Islam itu agama yang besar. Indonesia negara yang Besar. NU bertugas menjaga, melestarikan dan memurnikan kebesaran Islam dan kebesaran Indonesia." Demikian ungkapan yang disampaikan Prof. Dr. KH. Sa'id Aqil Siradj.
Bila kita mencerna secara mendalam, ungkapan sang Profesor yang kini menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tersebut kita akan menangkap pesan bahwa tugas NU, baik secara jam'iyyah (organisasi atau kelembagaan) maupun jamaah (personal) sangat besar dan berat. Tugas tersebut adalah mengawal dan mengembangkan kebesaran Islam di negara besar Indonesia. Tugas berat itu salah satunya bias melalui pendidikan di Pesantren Rakyat.
NU bertugas membumikan Islam yang secara formal dipeluk oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Tugas NU memproyeksikan dan mentransformasikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Membumikan Islam dalam konteks dakwah perjuangan NU tanpa harus merelokasi atau bahkan menggerus nilai-nilai kultural yang tumbuh dan berkembang di dalam kehidupan masyarakat. Karena nilai-nilai kultural, kearifan (local wisdom), dan keunikan lokal (local genius) yang tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat banyak yang sesuai dengan nilai-nilai Islam, seperti tolong-menolong, gotong-royong, kebersamaan, bersedekah dengan berkumpul mengundang sanak saudara dan tetangga dan sebagainya, sebagai mana yang sudah di terapkan di Pesantren Rakyat. NU berkewajiban memasukkan nilai-nilai moral-spiritual Islam kedalam nilai kulutral masyarakat. Seperti perjuangan para Waliyullah dalam mengembangkan dan mensyiarkan Islam di tanah Jawa.
Perjuangan dalam mengembangkan dakwah Islamiyah, agar ia berjalan efektif, maksimal dan optimal tentunya membutuhkan strategi. Srategi ini ditempuh dan dikembangkan melalui berbagai lini, termasuk politik. Meskipun Khittah NU melarang ikut politik praktis. Politik dalam konteks perjuangan NU adalah politik dakwah dan politik kebangsaan, bukan politik praktis yang saat ini sedang ramai dan di ikuti oleh segelintir oknum yang mengatasnamakan dirinya warga NU tulen yang hanya untuk mencari kemenangan dan kepuasan syahwat kekuasaan dan jabatan. Namun demikian, tidak jarang NU secara jam'iyah (terlebih dalam skala kecil seperti PCNU), apalagi jamaahnya terjebak dalam tarik ulur kepentingan politik, terjerembab dalam arus kepentingan demi kekuasaan, jabatan dan prestise.
Tidak jarang kader NU mendompleng NU demi untuk mendulang dukungan dan mengais simpati agar terpilih untuk menduduki jabatan tertentu, ataupun mendorong jama’ahnya untuk mendukung salah satu pasangan calon, misalnya didalam urusan pesta demokrasi seperti Pilkada, Pilgub dll. Mereka menggunakan nama NU dan mengatasnamakan NU untuk kepentingan pribadi dan kepentingan kelompok. Kader atau jamaah NU yang demikian sesungguhnya ia telah ber-NU untuk politik. Artinya, ia menggunakan institusi dan mengeksploitasi jamaah NU untuk memenuhi kepentingan politik pribadinya atau kelompok tertentu.
Tindakan di atas tentunya berlawanan dan mereduksi khittah politik NU yang menekankan pada politik dakwah dan kebangsaan. Bukan politik kelompok atau golongan tertentu, terlebih untuk individu. Politik kebangsaan lebih mengutamakan kepentingan bersama, menjaga kebersamaan dan kebesaran bangsa Indonesia dan Agama Islam. Politik kebangsaan yang menumbuhkembangkan kerukunan, perdamaian, keadilan, ketenteraman dan kesejahteraan dan pemberdayaan dalam bingkai multikulturalisme dan multi keyakinan dengan prinsip kekeluargaan dan persaudaraan.
Politik kebangsaan yang dikembangkan NU tidak bisa dilepaskan dari dunia pesantren. Bahkan ketua umum PBNU, S'aid Aqil Siradj sempat mempopulerkan jargon back to pesantren (kembali ke pesantren). Pesantren merupakan basic pertumbuhan dan perkembangan kultur NU, dan diakui atau tidak, pada dasarnya kebesaran NU lebih pada kekuatan kulturnya daripada strukturnya.
Back to pesantren berarti menumbuhkembangkan kembali pola fikir, pandangan dan cara hidup dunia pesantren yang kental dengan nilai-nilai spiritualitas, moralitas, kebersamaan, keikhlasan, kesederhanaan, kemandirian penuh hikmah dan kebijaksanaan, dan dari pesantrenlah pendidikan karakter itu terbentuk, jauh hari sebelum mendiknas mencanangkan kurikulum tentang pendidikan karakter. Artinya, pola dakwah dan perjuangan NU harus memegangi spirit dakwah dan jangan terjebak dan terbawa arus globalisasi yang lekat dan sarat dengan nilai-nilai politik praktis para elitis, hedonis yang kental dengan budaya konsumerisme. Karena nampaknya ada pergeseran pola fikir dan gaya hidup sebagian jamaah NU kearah pola elitis, materealis dan jauh dari nilai-nilai kesederhanaan dan keikhlasan.
Pesantren-pesantren dibawah naungan NU, melalui Kiyai, ulama dan santri telah sukses mensinergikan budaya dan agama. Ini terbukti dengan tersebarnya dakwah dan nilai perjuangan NU ke seluruh pelosok, bahkan tersebar ke penjuru nusantara, bahkan mendunia. Pesantrenlah yang menjadi pilar penopang dakwah NU. Moralitas dan misi pesantren bersandar pada citra Ilahi yang menekankan pengabdian dan keikhlasan yang berorientasi pada dimensi esoterik yang bersifat metafisik. Inilah yang seharusnya terus dipegangi NU, baik jam'iyah maupun jamaah.
Dakwah dan politik kebangsaan NU tidak terbatas oleh kepentingan, tempat dan waktu. Dakwah untuk memperjuangkan dan membangun kecerdasan emosional, intelektual, spiritual dan sosial umat dan bangsa demi terciptanya masyarakat yang adil, damai, sejahtera dalam bingkai multikulturalisme Bangsa Indonesia. Jangan sampai NU dan warga Pesantren di manfaatkan oleh sekelompok orang untuk meraih ambisi tertentu.
Langganan:
Komentar (Atom)

